Zakat Produktif dalam Perspektif Islam

PENDAHULUAN
Dalam Alquran kata zakat berulang-ulang dan selalu digandengkan dengan shalat yang menunjukkan umat Islam tidak cukup hanya dengan ibadah shalat saja, bahkan Allah Ta’ala dengan tegas mengatakan kita baru dikatakan saudara seagama setelah melaksanakan taubat-shalat-zakat seperti dalam firmanNya:
Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang Mengetahui. (QS.9:11)
Kita mengeluarkan zakat bukan berarti kita merasa memberi mereka, akan tetapi memang haknya mereka para fakir-miskin yang harus kita keluarkan seperti dalam firmaNya:
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS.51:19)
Bahkan Allah Ta’ala bagi yang tidak mau mengeluarkan zakat disetarakan dengan orang-orang musyrik yang ingkar terhadap kehidupan akhirat seperti dalam firmanNya :
Katakanlah: “Bahwasanya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. .(QS.41:6-7)

Ummat Islam adalah ummat yang mulia, ummat yang dipilih Allah untuk mengemban risalah, agar mereka menjadi saksi atas segala ummat. Tugas ummat Islam adalah mewujudkan kehidupan yang adil, makmur, tentram dan sejahtera dimanapun mereka berada. Karena itu ummat Islam seharusnya menjadi rahmat bagi sekalian alam. Bahwa kenyataan ummat Islam kini jauh dari kondisi ideal, adalah akibat belum mampu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’du : 11). Potensi-potensi dasar yang dianugerahkan Allah kepada ummat Islam belum dikembangkan secara optimal. Padahal ummat Islam memiliki banyak intelektual dan ulama, disamping potensi sumber daya manusia dan ekonomi yang melimpah. Jika seluruh potensi itu dikembangkan secara seksama, dirangkai dengan potensi aqidah Islamiyah (tauhid), tentu akan diperoleh hasil yang optimal. Pada saat yang sama, jika kemandirian, kesadaran beragama dan ukhuwah Islamiyah kaum muslimin juga makin meningkat maka pintu-pintu kemungkaran akibat kesulitan ekonomi akan makin dapat dipersempit.
Zakat adalah suatu rukun Islam yang wajib di penuhi oleh setiap muslim. Zakat memiliki hikmah yang di kategorikan dalam dua dimensi: dimensi vertical dan dimensi horizontal. Dalam kerangka ini, zakat menjadi perwujudan ibadah kepada Allah sekaligus sebagai perwujudan dari rasa kepedulian social (ibadah sosial). Bisa dikatakan seseorang yang menunaikan zakat dapat mempererat hubungannya dengan Allah dan hubungan kepada sesama manusia. Dengan demikian pengabdian sosial dan pengabdian kepada Allah SWT adalah inti dari ibadah zakat.
Menunaikan zakat adalah urusan individu, sebagai pemenuhan kewajiban orang muslim. Pennuaian kewajiban zakat adalah urusan kepada Allah. Apabila seorang muslim telah mengadakan zakat, berarti ia telah beribadah dan melaksanakan kewajibannya tersebut, seseorang, dalam hal ini muzakki tidak lepas dari urusan bersama, karena masalah zakat berhubungan dengan masalah harta dan kepada siapa harta di berikan, jadi berkaitan erat dengan para penerima zakat.
Zakat pada pelaksanaannya harus di tetapkan dan diatur oleh agama dan Negara, baik dari jenis harta yang di zakatkan, para wajib zakat (muzakki), maupun para penerima zakat (mustahiq), sampai pada pengelolaanya pada pihak ketiga, dalam hal ini pemerintah atau lembaga yang di tunjuk oleh pemeritah untuk mengelolah zakat demi kemaslahatan bersama. Negara atau lembaga inilah yang akan membantu para muzakki, untuk menyampaikan zakatnya kepada para mustahiq atau membantu para mustahiq menerima hak-haknya.
Pembagian zakat dewasa ini umumnya dilakukan oleh lembaga zakat dengan cara konsumtif. Padahal metode ini kurang menyentuh pada persoalan yang di hadapi oleh para mustahiq. Karena hanya membantu kesulitan mereka dalam sesaat. Namun, ada sebagian lembaga yang telah mencoba memberikan zakat dengan cara produktif. Salah satu diantaranya adalah lembaga zakat dompet dhuafa Republika Jakarta. Lembaga non pemerintah, yang mengkhidmakan diri untuk mengelola dana zakat.
Niat baik dan keseriusan umat Islam, khususnya Negara/lembaga zakat sangat penting, apalagi mengingat Negara indonesia bukanlah Negara Islam. Banyak masalah yang akan timbul apabila hal ini tidak dimulai dengan niat baik dan ditangani secara baik dan benar sesuai dengan ketentuan dan nilai-nilai ajaran Islam. Pihak yang dapat melakukan itu semua adalah umat Islam sendiri, khususnya para tokoh agama dan cendekiawan yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah agama dan bangsa, yang ditopang dengan pemerintah yang adil dan bijaksana.

ISI BUKU
Zakat

Dilihat dari segi bahasa, kata zakat berasal dari kata zaka (bentuk mashdar), yang mempunyai arti: berkah, tumbuh, bersih, suci dan baik. Beberapa arti memang sangat sesuai dengan arti zakat yang sebenarnya. Dikatakan berkah karena zakat akan membuat keberkahan pada harta seseorang yang telah berzakat. Dikatakan suci, karena zakat dapat mensucikan pemilik harta dari sifat tama’, syirik, kikir, bakhil. Dikatakan tumbuh, karena zakat akan melipat gandakan pahala bagi muzakki dan membantu kesulitan mustahiq. Demikian seterusnya, apabila dikaji, arti bahasa ini sesuai dengan apa yang menjadu tujuan disyari’atkannya zakat.
Dalam Al-quran, kata zakat sering disebut dengan kata sadaqah dan infak, disamping dengan zakat itu sendiri.
Disebut dengan kata zakat, sebagaimana terungkap dalam firman Allah SWT:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.(QS At-taubah: 34)
Perkataan menafkahkannya dijalan Allah dalam ayat diatas diartikan mengeluarkan bagian zakatnya. Jadi zakat menurut bahasa, berarti suci, berkah, bersih, pemberian si kayak ke si miskin, kewajibannya si kaya dan haknya si miskin.
Sedangkan pengertian zakat menurut syara’(terminologi), dalam pandangan ahli fiqih memiliki batasan yang beraneka ragam. Al-syirbini mengartikan zakat sebagai: “nama bagi kadar tertentu dari harta benda tertentu yang wajib di dayagunakan kepada golongan-golongan masyarakat tertentu”.
Ada ulama yang mengartikan zakat sebagai “hak yang wajib yang terkandung dalam harta benda tertentu, untuk golongan masyarakat tertentu, dalam waktu tertentu”.
“mengeluarkan bagian tertentu dari harta yang mencapai satu nisab, untuk orang yang berhak menerimanya manakalah sempurna pemilikannya dan sempurna satu tahun bagi harta selain barang tambang dan selain harta tanaman”.
Aneka ragam ta’rif diatas hanya berbeda redaksi. Apabila di teliti semuanya mencakup unsur-unsur yang harus ada dalam zakat. Unsur tersebut yaitu:
a. Harta yang di pungut
b. Basis harta
c. Subyek yang berhak menerima zakat
Ketiga-tiganya menjadi unsur dalam membentuk struktur definisi zakat. Jadi dapat dikatakan bahwa aneka ragam definisi tersebut saling menyempurnakan satu sama lain.
Adapun Sayyid Sabiq, mendifinisikan zakat adalah “suatu sebutan dari hak Allah yang di keluarkan seseorang untuk fakir miskin. Dinamakan zakat, karena dengan mengeluarkan zakat itu didalamnya terkandung harapan untuk mendapatkan berkat, pembersihan jiwa dari sifat kikir bagi orang kaya atau menghilangkan rasa iri hati orang-orang miskin dan menupuknya berbagai kebajikan. Arti aslinya adalah tumbuh, suci dan berkat”.
Pengertian zakat produktif
Kata produktif secara bahasa berasal dari bahasa inggris “productive” yang berarti banyak menghasilkan; memberikan banyak hasil; banyak menghasilkan barang-barang berharga; yang mempunyai hasil baik. “productivity” daya produktif.
Secara umum produktif berarti: “banyak menghasilkan barang atau karya”. Produktif juga berarti “banyak menghasilkan; memberikan hasil”.
Pengertian produktif lebih berkonotasi kepada kata sifat. Kata sifat akan jelasnya maknanya apabila digabung dengan kata yang disifatinya. Dalam hal ini kata yang disifati adalah kata zakat, sehingga menjadi zakat produktif yang artinya: zakat dimana dalam pendistribusiannya bersifat produktif lawan dari konsumtif.
Lebih tegasnya zakat produktif adalah pendayagunaan zakat secara produktif, yang pemahamannya lebih kepada bagaimana cara atau metode menyampaikan dana zakat kepada sasaran dalam pengertian yang lebih luas, sesuai dengan ruh dan tujua syara’. Cara pemberian yang tepat guna, efektif manfaatnya dengan sistem yang serba guna dan produktif, sesuai dengan pesan syariat dan peran serta fungsi social ekonomi dari zakat.
Zakat produktif dengan demikian adalah pemberian zakat yang dapat membuat para penerimanya menghasilkan sesuatu secara terus menerus, dengan harta zakat yang telah diterimanya. Zakat produktif dengan demikian adalah zakat dimana harta atau dana zakat yang diberikan kepada para mustahiq tidak dihabiskan akan tetapi dikembangkan dan digunakan untuk membantu usaha mereka, sehingga dengan usaha tersebut mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup secara terus-menerus dan juga untuk bisa terealisasi dengan baik maka di butuhkan peran dari pemerintah dan lembaga pengelolah zakat.
Memperhatikan apa yang dikemukakan Adi Sasono, semakin jelas peran pemerintah terhadap rakyanya. Member kesempatan bekerja dan mengikutkan mereka dalam proses produktif. Lembaga zakat dapat membantu tugas tersebut, karena zakat memiliki funsi social dan ekonomi yang jelas dan kuat.
Menurut Syaltut: dengan zakat, masyarakat dapat membersihkan diri dari musuh yang utama yaitu kefakiran dan dapat mempererat persaudaraan dan kasih sayang antara si kaya dengan si miskin sehingga timbullah rasa kasih sayang, tolong menolong dan saling merasakan serta bertanggung jawab”.
Asy-Syairazi bahkan mewajibkan pemerintah membentuk suatu badan yang bertugas mengurusi zakat yang ia sebut dengan amalah tersebut, dengan alasan: 1. Nabi, 2. Diantara manusia yang memiliki harta, tapi tidak mengerti adanya kewajiban pada harta bendanya, dan 3. Ada yang mengerti, tapi kikir, maka dalam hal inilah pemerintah wajib mengurusi zakat.
Hukum Zakat Produktif
Teori hukum Islam menunjukan bahwa dalam menghadapi masalah-masalah yang tidak jelas rinciannya dalam Al-quran atau petunjuk yang di tinggalkan Nabi SAW, penyelesaiannya adalah dengan metode ijtihad. Ijtihad atau pemakaian akal dengan tetap berpedoman pada Al-quran dan Al-hadits.
Dalam sejarah hukum Islam dilihat bahwa ijtihad diakui sebagai sumber hukum setelah Al-quran dan Hadits. Apalagi problematika zakat tidak pernah absen, selalu menjadi topic pembicaraan umat Islam, topic actual dan akan terus ada selagi umat Islam ada. Fungsi social, ekonomi, dan pendidkan dari zakat bila dikembangkan dan di budidayakan sebaik-baiknya akan dapat mengatasi masalah social, ekonomi, dan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa.
Disamping itu zakat merupakan sarana, bukan tujuan, karenanya dalam penerapan rumusan-rumusan tentang zakat harus ma’qulu al-ma’na, rasional, ia termasuk bidang fiqih yang selama penerapannya harus dipertimbangkan kondisi dan situasi serta senafas dengan tuntutan dan perkembangan zaman, (kapan dan dimana dilaksanakan).
Dengan demikian berarti bahwa teknik pelaksanaan pembagian zakat bukan sesautu yang mutlak, akan tetapi dinamis, dapat disesuaikan dengan kebutuhan disuatu tempat. Dalam artian perubahan dan perbedaan dengan cara pembagian zakat tidaklah dilarang dalam Islam karena tidak ada dasar hukum yang secara jelas menyebutkan cara pembagian zakat tersebut.
Bahkan menururt Yusuf Qardhawi “pemerintah Islam boleh membangun pabrik-pabrik atau perusahan-perusahan dari uang zakat yang pemilikan dan keuntungan untuk kepentingan fakir miskin untuk jaminan hidup mereka sepanjang masa”.
Didin Hafidhudin mengemukakan bahwa bagi para pedagang yang sudah mampu memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun boleh diberi pinjaman yang harus dikembalikan tanpa bunga dari dana zakat, apabila mereka membutuhkan dana tambahan atau mengembangkan usahannya.

ANALISIS
Sehubungan dengan masalah zakat yang dibahas dalam hal ini, titik beratnya adalah perintah berzakat. Perintah berzakat mengandung pengertian, supaya umat Islam mampu berzakat, dan bersungguh-sungguh mencari harta. Bagaimana mungkin berzakat, sekiranya tidak mempunya harta. Bagaimana mungkin bersedekah dan mengeluarkan infak sedangkan untuk keperluan pribadipun tidak memadai.
Jadi, secara langsung atau tidak, umat islam di perintahkan untuk menjadi kaya, tidak menjadi orang miskin dan melarat. Dalam kehidupan bermasyarakat, umat islam memerlukan tempat ibadah, memerlukan tempat pendidikan, memerlukan rumah sakit dan keperluan lainnya yang cukup banyak.
Sekiranya umat Islam sudah banyak yang mampu berzakat hal ini menandakan, bahwa status social umat Islam sudah mulai meningkat dan ekonominya sudah mulai membaik. Itulah diantara tolak ukurnya keberadaan umat islam dalam suatu masyarakat sudah mulai di perhitungkan.
Nabi Muhammad memesankan kepada umat islam, seandainya besok lusa akan terjadi kiamat, pada hari ini masih disarankan menanam pohon. Hal ini berarti, bahwa hidup ini harus diisi dengan kerja, suatu kerja (karya) yang bermanfaat untuk dunia dan akhrat. Kesempatan hidup didunia ini hanya sekali dialami oleh manusia dan bila kesempatan ini disia-siakan, maka akan kembali ke akhirat dengan tangan hampa, tidak membawa amal kebajikan untuk bekal hidup disana.
Tetapi hendaknya diingat, bahwa roda perekonomian baru dapat diputar apabila orangnya amanah, jujur, tabah tidak kenal menyerah disamping memiliki skill dan manajemen yang baik.
Jadi, zakat itu kaitannya dengan harta, dan harta kaitanya dengan doa kepada Allah, tidak cukup dengan do’a saja. Allah tidak menurunkan hujan emas dan perak, begitu kata Ummar.
Para pembagian zakat dalam surah At-taubah, Allah menyebutkan “ fisabilillah”. Para ulama salaf dan para menafsirkan dengan “para pejuang di medan perang dan orang-orang yang naik haji, agar terwujud makna hak milik bagi orang-orang tertentu”. Inilah penafsiran para ulama salaf dan para fuqaha.
Setelah itu, dewan fatwa Al-Azhar dan Syaikhul Azhar waktu itu, yaitu syekh Muhammad Syaltut, mengeluarkan fatwa bahwa zakat harta di perbolehkan untuk membangun masjid, lembaga pendidikan, rumah sakit, dan yang lain, yang bermanfaat bagi kaum muslimin.
Harta zakat hanya sebagian kecil saja dari harta kekayaan asal. Biasanya 2,5% dari hasil tanam. Kelompok yang mendapat bagian juga terbatas. Jadi apabila zakat disalurkan ke tempat-tempat lain, itu berarti mengabaikan kelompo-kelompok yang sudah di tentukan syariat. Jika Negara-negara berkembang menetapkan anggaran belanja cadangan dan keperluan lainnya secara terpisah agar tidak mengganggu anggaran belanja yang lain, maka bagaimanakah seorang muslim diperbolehkan melangkahi orang-orang yang memerlukan bantuan yang tertera dalam firman Allah SWT.
Peran zakat dalam kehidupan pribadi dan masyarakat muslim akan semakin terlihat manakalah pengalokasiannya tidak keluar dari kelompok-kelompok yang telah di tetapkan Allah dalam ayatnya. Jika ia berubah menjadi satu kepentingan umum, maka ikatan antara makna ibadah yang ada dalam pelaksanaan zakat dengan ukhuwah yang merupakan hikmah dari pensyariatan zakat akan terputus.
Dalam Islam, zakat adalah sarana untuk memperkuat ikatan kaum muslimin. Jika transparansi dalam pengambilan dan pengalokasian zakat semakin terlihat, akan semakin kuat rasa cinta dan hubungan sesama muslim.
Pendayagunaan zakat harus berdampak positif bagi mustahiq, baik secara ekonomi maupun social. Dari sisi ekonomi, mustahiq dituntut benar-benar dapat mandiri dan hidup secara layak sedangkan dari sisi social, mustahiq dapat hidup sejajar dengan masyarakat yang lain. Hal ini berarti, zakat tidak hanya didistribusikan untuk hal-hal yang konsumtif saja dan hanya bersifat sementara tetapi lebih untuk kepentingan yang produktif dan bersifat edukatif.
Dalam hal zakat untuk usaha yang produktif, maka pelaksanaannya harus memenuhi ketentuan sebagimana di atur dalam pasal 29 UU No 38 tahun 1999, sebagai berikut:
a. Melakukan studi kelayakan
b. Menetapkan jenis usaha produktif
c. Melakukan bimbingan dan penyuluhan
d. Melakukan pemantauan, pengendalian dan pengawasan
e. Mengadakan evaluasi
f. Membuat pelaporan
Penjelasan:
a. Melakukan studi kelayakan
Yang di maksud dengan stude kelayakan yaitu upaya untuk memperoleh keyakinan bahwa usaha yang dibiayai dari dana zakat benar-benar dapat berkembang dan dapat mengembalikan pinjamannya. Hasil dari studi kelaykan ini harus menunjukan hal-hal sebagai berikut”
- Data yang jelas tentang calon mustahiq
- Kebutuhan pinjaman yang psti
- Kemampuan waktu mengembalikan dengan jangka waktu yang jelas
- Jumlah bagi hasil yang mampu dibayarkan
- Alokasi pinjaman yang jelas
b. Menetapkan jenis usaha produktif
Langkah ini sesungguhnya dapt berupa dua macam. Pertama, jika mustahiq belum memiliki usaha, maka tugas amil mendorong dan mengarahkan sehingga mustahiq dapat membuka usaha yang layak. Sedapat mungkin dihindari kesan pemaksaan apalagi menggurui, karena akan berdampak positif. Kedua, jika mustahiq telah memiliki usaha tetapi tidak berkembang, maka tugas amil, menganalisis usahanya. Hasil analisis dapat menunjukkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, usahanya dapat di kembangakan dan yang kedua usahanya sulit untuk berkembang, sehingga dapat di temukan alternative untuk menggantikannya. Pada kemungkinan kedua, maka tugas amil meyakinkan bahwa usahanya berprospek tidak baik dan berusaha mencarikan usaha penggantinya.
c. Melakukan bimbingan dan penyeluhan
ini merupakan tugas untuk menjaga agar usahanya tetap berjalan dan berkembang serta mengamankan dana zakatnya. Tanpa fungsi ini, dikhawatirkan dana zakat akan disalahgunakan untuk kepentingan yang tidak sesuai dengan usulannya. Fungsi ini selayaknya di perankan bagi konsultan. Untuk mengefektifkan fungsi ini, mustahiq dpat di buat kelompok, sehingga lebih mudah dalam pengarahan dan penyeluhan.
d. Melakukan pemantauan, pengendalian dan pengawasan
Tugas ini menjadi sulit dilakukan manakala mustahiq, belum menyadari pentingnya pengendalian. Meskipun amil bertanggung jawab atas pemantauan dan pengawasannya, namun yang terpenting sesungguhnya menciptakan kesadran pengawasan oleh mustahiq sendiri. Artinya mendidik mustahiq untuk bertanggung jawab terhadap segala keputusan bisnis dan perilaku sosialnya.
e. Mengadakan evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mendapatkan data, bahwa usaha yang dijalankan dapat berkembang sesuai rencana, serta dana yang disalurkan benar-benar tepat sasaran. Program ini dapat dilakukan bersama-sama dengan mustahiq. Diharapkan amil hanya memfasilitasi, sehingga mustahiqlah yang akan mengevaluasi sendiri.
Lembaga pengkajian fiqih islam telah membahas persoalan ini dan mengambil keputusan final membolehkannya setelah terlebih dahulu disalurkan untuk orang-orang yang berhak menerima secara langsung dan segera mungkin serta terpenuhinya berbagai garansi tidak terjadinya kerugian-kerugian. Berikut ini teks dari keputusan lembaga sehubungan dengan persoalan yang dimaksud:
Sesungguhnya lembaga pengkajian fiqih islam dalam muktamar ketiganya yang diadakkan di Amman, ibukota kerajaan Yordania mulai Tanggal 8 hingga 13 Shafar 1407/ 11-16 Oktober 1986 M. setelah mempelajari kembali berbagai pembahasan tentang persoalan memfungsikan harta zakat untuk berbagai proyek yang hasilnya di berikan kepada orang yang berhak meneria zakat, dan setelah mdengarkan berbgai pendapat anggota lembaga dan para pakar di bidangnya, akhirnya lembaga memutuskan:
Secara prisipil boleh saja menggunakan uang zakat untuk kepentingan berbagai proyek pengembangan modal yang pada akhirnya menjadi milik orang yang berhak menerima zakat. Atau proyek yang dikelola oleh pihak yang berwenang di kumpulkan dan membagi-bagikan zakat, yang tentunya setelah terlebih dahulu disalurkan sebagiannya kepada para penerima zakat yang memang betul-betul membutuhkannya dalam waktu cepat, serta dengan syarat adanya jaminan untuk tidak terjadi kerugian-kerugian.
Dibolehkan pengembgan dana zakat dengan beberapa kode etik berikut:
- Tidak adanya alokasi-alokasi pembagian zakat instan sehingga seluruh harta zakat dapat habis dibagi-bagikan secara langsung.
- Pengelolaan dana itu dilakukan deperti modal lain dengan cara yang disyari’atkan.
- Hendaknya didasari oleh hubungan yang mempatenkan modal yang dikembangkan tersebut sebagai harta zakat, demikian juga keuntungan yang didapatkan.
- Sesegera mungkin menguangkan berbagai dana yang telah dikembangkan bila didapatkan mereka yang berhak menerima zakat untuk dibagikan kepada mereka.
- Dilakukan dengan sekuat tenaga untuk merealisasikan tujuan pengembangan modal dari harta zakat itu agar produktif dan aman serta dapat memenuhi tujuan pengembangan modal tersebut.
- Harus ada SK pengembangan modal zakat dari mereka yang direkomendasikan oleh Negara atau pihak yang berwenang untuk mengumpulkan dan membagi-bagikkan zakat agar tetap menjaga prinsip perwakilan yang disyari’atkan. Untuk memprakarsai proyek tersebut juga harus dipilih oleh orang-orang berkopetensi, berpengalaman dan dipercaya.
Kompleksnya permasalahan penghimpunan zakat, secar actual telah melahirkan fenomena frustasi missal sebagian besar pengelolah BMT yang tidak memiliki ghirah yang kuat untuk memperjuangkan tegaknya nilai-nilai ilahi dalam wacana keseharian masyarakat kita.
Undang-Undang No 38 tahun 1991 tentang pengelolaan zakat dengan kedaannya yang masih perlu disempurnakan, belum maksimal di sosialisasikan, sehingga masih banyak elemen masyarakat yang bukan saja belum memahami isinya tetapi juga belum mengetahui keberadaannya.
Kini barangkali kini tiba saatnya untuk menghidupkan kembali baitul mall BMT yang selama ini hanya ada dalam wacana. Tentunya bila kita menyadari sepenuhnya bahwa membiarkan BMT dengan keadaannya seperti sekarang berarti membiarkan lembaga ini menggali kuburnya sendiri. Ibarat anak yatim, baitul maal BMT adalah makhluk yang tak berdaya yang perlu dikasihani, sehingga penting direnungkan makna peringatan Nabi SAW. Limabelas abad yang lampau seburuk-buruk rumah adalah rumah yang didalamnya disia-siakan anak yatim. Jika kitapun diperkenankan menggunakan analogi terhadap peringatan Nabi tersebut dalam pengertia yang lebih luas, baeangkali kita pula dapat berujar, seburuk-buruk BMT adalh BMT yang disia-siakan baitul maal.
Ada persoalan penting yang perlu juga diperhatikan dalam kerangka penghimpunan zakat oleh baitl maal BMT. Persoalan itu terkait dengan menumbuhkan jumlah pebayaran zakat, dari waktu ke waktu secara menerus. Persoalan ini dianggap penting karena bila mereka jumlahnya terus bertambah, maka dana yang dikumpulkan juga akan semakin besar bertambah jumlahnya, sehingga pengelolaan dana yang dikumpulkan juga akan semakin bertambah jumlahnya, sehingga pengelolaan dana tersebut secara professional dan amanah akan memberikan arti yang sangat penting bagi peberdayaan ekonomi ummat. Adapun peberdayaan tersebut di fokuskan pada penigkatan taraf kesejahteraan orang-orang yang berhak menerima zakat, agar mampu menjadi pembayar zakat. Salah satu diantaranya adalah dengan mengembangkan program pembinaan dan penyaluran fasilitas pembiayaan al-qrdl tanpa beban bagi hasil kepada perajin kecil-kecil di desa-desa serta mereka yang emiliki usaha-usaha produktif tapi tidak memiliki modal.

PENUTUP

Nabi Muhammad memesankan kepada umat islam, seandainya besok lusa akan terjadi kiamat, pada hari ini masih disarankan menanam pohon. Hal ini berarti, bahwa hidup ini harus diisi dengan kerja, suatu kerja (karya) yang bermanfaat untuk dunia dan akhrat. Kesempatan hidup didunia ini hanya sekali dialami oleh manusia dan bila kesempatan ini disia-siakan, maka akan kembali ke akhirat dengan tangan hampa, tidak membawa amal kebajikan untuk bekal hidup disana.
Pendistribusian zakat boleh dilakukan dengan dua cara: konsumtif dan produktif. Bagi badan yang memiliki yang kuat zakat diberi dengan produktif. Bagi yang tidak memiliki badan yang kuat boleh diberi secara konsumtif dan lebih baik produktif, tapi dibawah pengawasan. Zakat produktif tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam, bahkan sesuai dengan prinsip disyariatkannya zakat dan sesuai dengan tiang dan prinsip-prinsip ekonomi Islam serta nilai-nilai social. Zakat produktif boleh berupa pemberian dan pinjaman, sesuai dengan keadaan dan persediaan dana zakat.
Pendistribusian zakat produktif dilaksanakan dengan metode pendekatan structural atau pendekatan kebutuhan dasar. Pendekatan ini lebih mengutamakan pertolongan secara kontiniu dan langsung mengatasi dan memecahkan sebab-sebab kemiskinan dan kelemahan seorang mustahiq.
Dengan demikian berarti bahwa teknik pelaksanaan pembagian zakat bukan sesautu yang mutlak, akan tetapi dinamis, dapat disesuaikan dengan kebutuhan disuatu tempat. Dalam artian perubahan dan perbedaan dengan cara pembagian zakat tidaklah dilarang dalam Islam karena tidak ada dasar hukum yang secara jelas menyebutkan cara pembagian zakat tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Hasan, M, Ali, Tuntunan Zakat dan Puasa, (cet-1, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997)
Ahmad, Shalih, Muhammad, Manajemen Islam dan Harta Kekayaan, (cet-2, Solo:Era Intermedia, 2002)
Ridwan, Muhammad, Manajemen Baitul Mall wa Tamwil, (cet-2, Yogyakarta: UII Press, 2005)
Prof. Dr. Abdullah Al-Mushlih dan Prof. Dr. Shalah As-Shawi, Fiqih Ekonomi Keuangan Islam, (cet-1, Jakarta: Darul Haq, 2004)
Ilmi, Makhalul, teori dan praktek lembaga mikro keuangan syariah, (cet-1, Yogyakarta; UII Press, 2002)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s